Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
![]() |
| Rajuli (Dok FIMA) |
Lhoksukon, (Analisa). Dinas Pertanian dan
Peternakan (Distannak) Kabupaten Aceh Utara dituding telah melakukan
penipuan dan pembohongan terhadap petani di kabupaten ini terkait
program benih padi bersubsidi.
Ketua Forum Interaksi Mahasiswa (FIMA) Paya Bakong, Rajuli, dalam
siaran pers yang diterima Analisa, Minggu (5/1) mengatakan, pada Oktober
2013 sebagian petani sudah melakukan setoran dana tebusan ke Distannak
untuk mendapatkan benih padi bersubsidi, namun hingga saat ini benih
bersubsidi tersebut belum disalurkan.
Petani yang sudah menyetor dana tebusan, yaitu petani Gampong (desa)
Blang Gunci Tgk Dibanda Pirak Kecamatan Paya Bakong, serta Aluee Rimee,
Serdang, Paya Jalo, Ulee Blang, Pucok Alue, Alue Bungkoeh, Minje Tujoh,
Teupin U, Ceumeucet dan Bili Baro Kecamatan Pirak Timu, dan beberapa
kecamatan lainnya.
“Namun, Distannak hanya mengumbar alasan dan janji kepada petani
bahwa persediaan benih tidak cukup dan dana tebusan akan segera
dikembalikan, namun sangat kita sayangkan hingga saat ini benih padi
belum disalurkan dan uang tebusan pun tidak ada kejelasan,” ujar Rajuli.
FIMA Paya Bakong menyesalkan kinerja Distannak Aceh Utara yang tidak
sesuai dengan apa yang disampaikan kepada petani terkait program benih
subsidi tersebut.
“Selain itu kami mendesak Distannak Aceh Utara untuk bertanggung
jawab dan segera mengembalikan uang tebusan benih yang dikutip dari
petani” pintanya.
Rajuli menambahkan, apabila Distannak lepas tangan, tidak tertutup
kemungkinan para petani akan membawa masalah ini ke ranah hukum. (bsr)
Sumber: http://www.analisadaily.com
Redaksi: Safrizal
PRESS RELEASE
04 Januari 2014
Terkait Benih Bersubsidi Distannak Kabupaten Aceh Utara
***
04 Januari 2014
Terkait Benih Bersubsidi Distannak Kabupaten Aceh Utara
***
![]() |
| Rajuli (Ketua FIMA) |
Pasalnya, pada bulan oktober 2013 sebahagian petani sudah melakukan setoran dana tebusan ke Distannak untuk mendapatkan benih padi tersebut seperti Desa Blang Gunci, Desa Tgk Dibanda Pirak Kecamatan Paya Bakong serta Desa Aluee Rimee, Serdang, Paya Jalo, Ulee Blang, Pucok Alue, Alue Bungkoeh, Minje Tujoh, Teupin U, Ceumeucet dan Desa Bili Baro Kecamatan Pirak Timu, dan beberapa Kecamatan lainnya di Kabupaten Aceh Utara.
Namun pihak Distannak hanya mengubar alasan dan janji kepada petani bahwa stok benih tidak cukup dan dana tebusan akan segera di kembalikan, namun sangat kita sayangkan hingga saat ini benih padi belum disalurkan dan uang tebusan pun tidak ada kejelasan.
Oleh karena itu, Forum Interaksi Mahasiswa (FIMA) Paya Bakong Kabupaten Aceh Utara menyesali kinerja Distannak yang tidak sesuai dengan apa yang di sampaikan kepada petani terkait program benih subsidi tersebut.
Selain itu kami mendesak Distannak Kabupaten Aceh Utara untuk bertanggung jawab dan segera mengembalikan uang tebusan benih yang dikutip dari petani.
Apabila Distannak lepas tanggan, maka tidak tertutup kemungkinan petani akan membawa masalah ini ke ranah hukum.
Ttd
RAJULI
(Ketua Umum FIMA PAYA BAKONG)
Cp: 082367879990
RAJULI
(Ketua Umum FIMA PAYA BAKONG)
Cp: 082367879990
![]() |
| Ilustrasi |
"Ya Alhamdulilah, petani sekarang mulai bisa lega mengelus dadanya. Sebab, harga kakao sejak sepekan terkahir ini mulai mahal. Untuk kakao kering yang dijual petani kepada pengepul, yaitu dijual dengan harga Rp 23 ribu untuk perkilonya," demikian yang dibenarkan oleh salah seorang pengepul kakao di Gampong Blang Lhoksukon, Muzakir (38).
Sebelumnya, kata Muzakir, harga kakao jauh lebih murah daripada harga yang saat ini sedang melambung. "Sebelumnya harga kakao kering yang kita terima dari petani yaitu Rp 10 sampai 15 ribu perkilonya. Kini harganya sudah mahal yang mana Rp 23 ribu perkilonya. Sedangkan untuk kakao yang kondisinya setengah kering, petani jual kepada kita dengan harga Rp 15 ribu perkilonya. Harga tersebut sudah termasuk mahal dibandingkan harga sebelumnya yang hanya Rp 10 ribu perkilonya," jelas Muzakir.
Tak hanya Muzakir, sejumlah pengepul lainnya di kecamatan Paya Bakong dan Cot Girek juga mengaku hal yang sama saat ditemui The Globe Journal. "Sama seperti di Lhoksukon, kakao yang kami beli dari petani harganya Rp 23 ribu perkilo. Petani tampaknya mulai sedikit lega dengan harga kakao yang sejak sepekan ini mulai melambung. Bahkan dalam seminggu, kami pengepul disini bisa mendapatkan satu ton kakao yang dijual petani ke sejumlah pengepul," kata Herman (41), salah seorang pengepul di Cot Girek.
Kakao yang dijual para petani kepada pengepul, kata Muzakir dan Herman, akan dibawa ke Medan setiap seminggu sekali. Untuk di Medan sana, harga kakao dijual oleh pengepul dengan harga Rp 25 ribu perkilonya. "Cuma dapat untung dua ribu kita jual ke medan. Kita beli dari petani Rp 23 ribu, dan kita jual ke Medan Rp 25 ribu perkilonya," jelas Herman.
Para pengepul di tiga kecamatan itu berharap agar harga kakao tetap stabil supaya para petani tetap bisa lega dan gembira.
Sumber: http://www.theglobejournal.com
Diberdayakan oleh Blogger.








